MENUNGGU TEKNOLOGI TEPAT GUNA, DEMI PENDIDIKAN IMPIAN SANG BUAH HATI

wanita pengolah tanah
“Pada penen kemaren, saya dapat 800 Gantang Padi”. Begitulah jawaban Pak Abu, begitu Bapak 3 anak ini biasa dipanggil ketika penulis menanya hasil sawahnya. Pak Abu menggarap sawah seluas 2/3 Ha, dengan konversi 1 Ha = 30 Gantang Benih. Sungguh produksi yang menggelikan sekaligus memprihatinkan, bahkan teman saya sempat berciloteh “Kalau sempat Bapak-bapak dari Dirjend Tanaman Pangan Deptan menanya langsung kepada Bapak Abu tadi berkemungkinan besar dia (Bapak Abu) akan disuruh berhenti untuk menanam padi, karena produksinya sangat buruk”.
dsc_0492
Pada 2007 lalu rata-rata produksi padi nasional adalah 4,5 Ton/Ha/Musim Tanam (Sumber : Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deptan vol 29, No.2, tahun 2007), sedangkan di Rangkiang Luluih yang terdiri dari Desa Buah Dama, Sungai Abang, Sapan, Kapujan, Tampak Kudo, dan Bancah Laweh ini hanya mampu memproduksi Gabah 1,8 Ton/Ha/MT. Padahal untuk pengairan di daerah ini tidak mengalami masalah, karena topografi daerahnya yang cenderung terjal membuat air yang bersumber dari mata air di perbukitan cukup mudah untuk mengairi sawah-sawah petani.
Seandainya saja 5 tahun kedepan produksi sawah Pak Abu dan Bapak-Bapak yang lain di Desa Sapan ini bisa meningkat 200 % saja dari produksi saat ini, maka masyarakat akan mendapatkan hasil Rp. 1.133.000,-/ bulan, cukup jauh dari UMP Sumatera Barat yang direncanakan untuk 2009 masih akan berkisar Rp. 800 ribuan /bulan. Dan sudah barang tentu pendidikan anak-anak mereka bisa lebih tinggi, tidak seperti orang tua mereka rata-rata hanya tamat SD, bahkan cukup banyak yang tidak tamat SD.
Berdasarkan Informasi dari Bapak Rizaldi (Ketua P3A Malereang Tabiang, Desa Banda Liko, Nagari Sumani, Kec. X Koto Singkarak, Kab. Solok) biaya yang dibutuhkan untuk 1 Ha sawah adalah Rp. 4.000.000,-, jadi ketika hasil padi 3,6 ton dikalikan dengan asumsi harga Gabah Rp. 3.000,-/Kg maka pendapatan bruto dari sawah/Ha/MT adalah 3.000 X 3.600 = Rp.10.800.000,-, setelah dikurang biaya produksi maka angka Rp 6.800.000,-/Ha/MT akan dikantongi oleh Bapak Abu.
Terakhir, Seandainya ada pihak baik dari Pemerintah maupun Lembaga donor yang mau serius mengelola permasalahan pertanian sawah di Rangkiang Luluih bukan tak mungkin 3 tahun kedepan angka-angka diatas bisa dilewati. Karena hasil pengamatan penulis dilapangan, permasalahan urgent yg terjadio di sana adalah masyarakat belum memakai Mesin untuk mengolah Sawah, mereka masih memanfaatkan Kerbau untuk membajak sawah mereka, dari segi pembiayaan memang sangat irit namun tentu akan Signifikan terhadap produksi padi mereka. Karena di kawasan P3A Malereang Tabiang yang diketuai oleh Pak Rizaldi produksi sawah berkisar antara 3,5 s/d 4,5 Ton/Ha/MT, padahal untuk pengairan petani disana masih kewalahan karena harga BBM yang naik dan biaya perawatan mesin yg juga ikut meningkat.
SEMOGA ANAK2MU BISA MENGECAP PENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI, WAHAI SAUDARAKU DI RANGKIANG LULUIH

Explore posts in the same categories: KEARIFAN LOKAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: