Rangkiang Luluih : Disini Cerita Bermula

rangkiang-luluih

Ratusan tahun silam, tepatnya pada 4 keturunan sebelum sekarang pada wilayah yang sekarang masuk kedalam Kec. Tigo Lurah ada kejadian yang menggemparkan masyarakat setempat. Pada malam gelap gulita telah lenyap ditelan bumi satu unit Rumah Gadang dan Rangkiang (Lumbung Padi) milik salah satu keluarga disana, tanpa bekas. Pada saat kejadian seluruh anggota keluarga yang tidur di rumah tersebut ikut ditelan bumi, salah seorang anggota keluarga kebetulan tidur di rumah famili yang lain yang menurut penuturan warga sekitar adalah seorang perempuan terkejut pada pagi hari hendak pulang ke rumah karena rumah Gadang dengan Rangkiangnnya yang kemaren sore waktu dia tinggalkan masih berdiri kokoh pada pagi itu hilang lenyap entah kemana.

Berdasarkan keterangan warga Rangkiang Luluih, Tujuh hari setelah kejadian Rumah dan Rangkiang yang ditelan bumi tersebut muncul di Wilayah Kerinci tepatnya di Tanjung Rawang dalam kondisi utuh minus atap rumah dan atap rangkiang. Sungguh menakjubkan memang kejadian itu, beberapa waktu setelah kejadian ada Orang dari Kerinci yang bertanya letak Nagari Rangkiang Luluih kepada salah seorang masyarakat di Simanau (Simanau semenjak tahun 2002 telah menjadi Nagari sebelumnya merupakan bagian dari Nagari Rangkiang Luluih), kalau kita dari Kota Solok hendak pergi ke Kec. Tigo Lurah melewati Kec. Payung Sekaki maka Simanau adalah Gerbang Kec. Tigo Lurah. Singkat cerita setelah diberitahu oleh salah seorang warga Simanau tentang letak Nagari Rangkiang Luluih maka orang yang bertanya itupun berlalu menuju jalan ke Rangkiang Luluih, namun entah apa sebabnya dia telah lewat di Nagari Rangkiang Luluih dan akhirnya tiba di Batu Bajanjang yang merupakan pusat pemerintahan Kec. Tigo Lurah, lalu orang itu bertanya lagi dan berdasarkan keterangan warga di Batu Bajanjang maka orang tersebut harus kembali menyusuri jalan yang dia lewati tadi karena daerah yang dia cari telah dia lewati, lagi-lagi orang tersebut melewatkan nagari Rangkliang Luluih dan akhirnya sampai ke Simanau lagi. Entah apa penyebabnya, namun warga Rangkiang Luluih berkesimpulan bahwa Keluarga yang ditelan bumi tersebut sudah ditakdirkan ALLAH SWT untuk tidak bisa bertemu dengan salah seorang anggota keluarganya di Rangkiang Luluih.

Sekarang bekas tempat lenyapnya bangunan Rumah Gadang dan Rangkiang tersebut sudah diolah oleh masyarakat setempat menjadi Sawah, dalam rentang waktu 2 tahun bertepatan pada bulan Dzulhijah biasanya pada malam hari dari kawasan tersebut terdengar bunyi Talempong (Alat musik tradisional Minang Kabau). Jadi itulah sekelumit sejarah makanya sampai sekarang wilayah tersebut diberi nama dengan Nagari Rangkiang Luluih.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: