(BUKAN PARIWARA!!!) INDOSAT MENYAMBANGI TIGO LURAH.

Ditulis Juni 18, 2009 oleh boyamra158
Kategori: Uncategorized

Alhamdulillah semenjak 2 minggu terakhir kecamatan Tigo Lurah yg meski masih gelap gulita, namun telah di datangi tamu yang mudah-mudahan bisa menjadi pendongkrak blank nya komunikasi masyarakat sekitar dengan dunia luar.
Yang pasti sekarang para petani Manggis sudah bisa mengontrol harga manggis super di pasaran nasional/internasional sehingga mereka tidak bisa kagi ditipu oleh para pedagang pengumpul.
Walaupun Indosat sempat diterpa isu “Nasionalisme”, namun gebrakan yang dilakukan patut disanjung dengan memanfaatkan teknologi ini sebaik mungkin oleh masyarakat Tigo Lurah, bukan hanya sekedar SMS-an antara pelajar, atau sekedar Chat bagi muda mudi. Toh masih banyak hal bermanfaat lain yang bisa dipicu oleh teknologi ini. Bagaimana nantinya kawasan Perawan yang miskin pembangunan ini bisa ter-ekspose ke dunia luar sehingga kedepan diharapkan investor berhati mulia mau menanamkan modalnya di daerah yang masih penuh lumpur ini.Amin.

PNPM-IP (PPIP) 2008 di Desa Buah Dama & Sungai Abang (Dibalik Lensa DSLR Nikon D40)

Ditulis Januari 17, 2009 oleh boyamra158
Kategori: PPIP 2008

rangkiang-luluih-2008-okk
Logo PPIP (Febriboy Amra doc.)

dsc_0963
Generasi Masa Depan Buah Dama (Febriboy Amra Doc.)

dsc_08911
Pengambilan Sampel Tanah Sawah untuk diteliti di BPTP Sumatera Barat “dikawal” langsung oleh Wali Nagari Rangkiang Luluih, Rustam (Febriboy Amra Doc.)

dsc_0918
Sepeda Motor Sanex “Doris Abadi”, Milik Yandri Adharfi (FT. Buah Dama) terpaksa digotong ke atas Mitsubishi L300 pada 31 Desember 2008 (Febriboy Amra Doc.)

dsc_0432
Susunan batu yang sebelumnya di bakar agar badan jalan lebih lebar (Febriboy Amra Doc.)

test
“AMPIBI”, Sanex “Doris Abadi” mengalami nasib naas dalam perjalanan ke Lokasi PPIP 2008 di Buah Dama, Rangkianfg Luluih, Kec. Tigo Lurah (Febriboy Amra Doc.)

MENCOBA BANGKIT DALAM KEBERSAMAAN

Ditulis Januari 16, 2009 oleh tigolurah
Kategori: KEARIFAN LOKAL

dsc_0891
Tak terasa sudah 2,5 bulan penulis bersama 2 rekan lainnya bertugas di Kenagarian Rangkiang Luluih, Kec. Tigo Lurah sebagai Fasilitator Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan ( PPIP) 2008.
Pada masa “Injury Time” ini penulis mencoba bergandengan tangan bersama masyarakat Rangkiang Luluih untuk melihat permasalahan yg menjadi penyebab rendahnya produksi Padi sawah masyarakat sekitar.
Dimulai dengan penjajakan ke BPTP Sumatera Barat yg terletak di Sukarami, Kab. Solok, melalui “Kursus kilat” dengan salah seorang tenaga Teknis BPTP penulis disarankan untuk mengambil sampel tanah di Rangkiang Luluih untuk diteliti disertai Surat Pengantar dari Wali Nagari.
dsc_0679

MERANGKAK DI TANAH LIAT DEMI SEBUAH KEMANDIRIAN

Ditulis Januari 10, 2009 oleh boyamra158
Kategori: KEARIFAN LOKAL

Dengan berbekal “kursus” singkat dari salah seorang Tenaga Teknis dari BPTP Sumatera Barat tentang cara pengambilan sampel tanah lahan sawah untuk kemudian diteliti oleh pihak BPTP Sumatera Barat, penulis coba mengajak beberapa orang petani di Sungai Abang, Kenagarian Rangkiang Luluih untuk mem-praktekkan cara mengambil sampel tanah sawah penduduk setempat. Dengan harapan nantinya setelah sampel tanah tsb diperiksa oleh pihak BPTP, maka keluarlah rekomendasi pemupukan yg “cocok” dengan karakteristik tanah setempat.
“Sebuah petualangan bersama-sama masyarakat untuk meningkatkan taraf kehidupan melalui peningkatan produksi padi”, mungkin itulah sebuah ungkapan yang dapat mewakili pertanyaan “Untuk apa ini semua?”.
Kedepan setelah rekomendasi pemupukan berdasarkan spesifik lokasi dikeluarkan oleh pihak BPTP Sumatera Barat yang terletak di Sukarami,Kec Gunung Talang, Kab. Solok “Petualangan” ini akan dilanjutkan dengan melaksanakan “Denplot” pada sawah masyarakat Sungai Abang yg akan di mulai dari pengorganisasian masyarakat dalam Kelompok Tani, Sistem pengolahan tanah, pemilihan bibit unggul yg cocok dengan topografi wilayah setempat, sistem pola tanam “Jajar Legowo”, pemupukan, pengendalian hama, sampai ke penanganan pasca panen terhadap jerami agar lebih bermanfaat bagi “Kesehatan Lahan Sawah”.
Mudah2an “Petualangan” ini dapat bermanfaat terutama bagi masyarakat Rangkiang Luluih khususnya dan Kec. Tigo Lurah umumnya.

KENANGAN MANIS DIPENGHUJUNG 2008

Ditulis Desember 30, 2008 oleh boyamra158
Kategori: PPIP 2008

yandri2
Gambar diatas bukan “track Cross”. namun jalan Kabupaten (Sirukam – Batu Bajanjang).
Tak terasa sudah 2,5 Bulan penulis dan 2 rekan lainnya bolak-balik menempuh rute 63 Km, Solok-Rangkiang Luluih demi melaksanakan tugas sebagai Fasilitator pada Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PNPM-IP) 2008 pada lokasi Desa Buah Dama dan Sungai Abang di Kenagarian Rangkiang Luluih, Kecamtan Tigo Lurah. Dalam menjalankan tugas di Desa Tertinggal ini (Sesuai dengan Surat Ketetapan dari Kementerian Desa Tertinggal). Mulai dari harus makan mie rebus di siang bolong karena tidak ada warung Nasi, menambal ban dalam sepeda motor yang kena paku dengan getah karet, hingga harus masuk lumpur dengan kedalaman 100-an cm. Firdaus, salah seorang Fasilitator Teknik yg bertugas untuk Desa Sungai Abang Waktu pertama kali kami berangkat ke Kecamatan Tigo Lurah mengatakan ”Kawan, kejamnya dunia, bagi siapa yang belum pernah merasakan kejamnya dunia silahkan datang ke Tigo Lurah”.

Selamat tahun baru bagi seluruh Agent of Change di seluruh Indonesia dari Febriboy Amra (F.P. PPIP 2008 Desa Buah Dama& Desa Sungai Abang, Kec. Tigo Lurah, Kab. Solok,Sumatera Barat), Firdaus (F.T. PPIP 2008 Desa Sungai Abang, Kec. Tigo Lurah, Kab. Solok,Sumatera Barat), Yandri Adharfi (F.T. PPIP 2008 Desa Buah Dama, Kec. Tigo Lurah, Kab. Solok,Sumatera Barat).

1 Time, 2 Jobs

Ditulis Desember 29, 2008 oleh boyamra158
Kategori: KEARIFAN LOKAL

Satu lagi kebiasaan masyarakat Rangkiang Luluih yang patut diacungi jempol, lihat saja gambar berikut :
pengusir-burung

Gambar diatas adalah sebuah alat yang dipergunakan untuk mengusir hama burung yang mengganggu ladang & sawah masyarakat, dengan penggunaan alat tersebut masyarakat tidak harus menunggui sawah dan ladang mereka kalau-kalau hasil pertanian mereka yang akan dipanen dimakan oleh hama burung,1 waktu untuk 2 pekerjaan. Teknologi Tepat Guna, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk mengapresiasikan kearifan Lokal masyarakat Rangkiang Luluih ini. Teknik yang sebenarnya sangat sederhana, hanya dengan memanfaatkan tempurung kelapa sebagai penanti arus air dari hulu, ditambah benang/tali sebagai pengikat yang berikutnya diikatkan ke bambu yang berbentuk lengkung. Selanjutnya dari bambu yang sama diikatkan lagi tali yg direntangkan ke sawah/ladang, kemudian pada ujung tali tersebut diikatkan besi halus yg diletakkan didalam kaleng agar selalu menghasilkan bunyi yg akan ditakuti oleh burung. Bisa juga sepanjang bentangan tali tersebut diikatkan benda-benda yang berfungsi sebagai orang-orangan sawah.

Pertanyaannya sekarang adalah, Pernahkah kiat menemukan hal yang serupa di daerah lain?
Kalau dijawab ”Pernah” : Samakah tingkat pendidikan masyarakat daerah tersebut dengan masyarakat Rangkiang Luluih yang rata-rata hanya tamat Sekolah Dasar, yang disebabkan ekonomi mereka cukup lemah sehingga mereka tidak sanggup membiayai anak-anak mereka untuk melanjutkan sekolah pada pendidikan Tingkat Atas ke daerah luar dari Kecamatan Tigo Lurah, karena dikampung mereka sampai penghujung tahun 2008 ini belum ada satu pun SMA/sederajat.

Kalau dijawab ”Belum” : Pantaskah masyarakat Rangkiang Luluih kita beri Apresiasi dengan melakukan program-program pemberdayaan masyarakat dalam rangka percepatan pembangunan Fisik,Ekonomi Sosial,Kesehatan, dan Pendidikan daerah ini dari ketertinggalannya.

SEMOGA ADA PIHAK-PIHAK YANG TERTARIK DALAM MEMBANGUN RANGKIANG LULUIH/KEC. TIGO LURAH,KAB. SOLOK DEMI PERCEPATAN DAERAH INI KELUAR DARI KETERTINGGALANNYA DIBANDING DAERAH LAINNYA.

MENUNGGU TEKNOLOGI TEPAT GUNA, DEMI PENDIDIKAN IMPIAN SANG BUAH HATI

Ditulis Desember 20, 2008 oleh boyamra158
Kategori: KEARIFAN LOKAL

wanita pengolah tanah
“Pada penen kemaren, saya dapat 800 Gantang Padi”. Begitulah jawaban Pak Abu, begitu Bapak 3 anak ini biasa dipanggil ketika penulis menanya hasil sawahnya. Pak Abu menggarap sawah seluas 2/3 Ha, dengan konversi 1 Ha = 30 Gantang Benih. Sungguh produksi yang menggelikan sekaligus memprihatinkan, bahkan teman saya sempat berciloteh “Kalau sempat Bapak-bapak dari Dirjend Tanaman Pangan Deptan menanya langsung kepada Bapak Abu tadi berkemungkinan besar dia (Bapak Abu) akan disuruh berhenti untuk menanam padi, karena produksinya sangat buruk”.
dsc_0492
Pada 2007 lalu rata-rata produksi padi nasional adalah 4,5 Ton/Ha/Musim Tanam (Sumber : Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deptan vol 29, No.2, tahun 2007), sedangkan di Rangkiang Luluih yang terdiri dari Desa Buah Dama, Sungai Abang, Sapan, Kapujan, Tampak Kudo, dan Bancah Laweh ini hanya mampu memproduksi Gabah 1,8 Ton/Ha/MT. Padahal untuk pengairan di daerah ini tidak mengalami masalah, karena topografi daerahnya yang cenderung terjal membuat air yang bersumber dari mata air di perbukitan cukup mudah untuk mengairi sawah-sawah petani.
Seandainya saja 5 tahun kedepan produksi sawah Pak Abu dan Bapak-Bapak yang lain di Desa Sapan ini bisa meningkat 200 % saja dari produksi saat ini, maka masyarakat akan mendapatkan hasil Rp. 1.133.000,-/ bulan, cukup jauh dari UMP Sumatera Barat yang direncanakan untuk 2009 masih akan berkisar Rp. 800 ribuan /bulan. Dan sudah barang tentu pendidikan anak-anak mereka bisa lebih tinggi, tidak seperti orang tua mereka rata-rata hanya tamat SD, bahkan cukup banyak yang tidak tamat SD.
Berdasarkan Informasi dari Bapak Rizaldi (Ketua P3A Malereang Tabiang, Desa Banda Liko, Nagari Sumani, Kec. X Koto Singkarak, Kab. Solok) biaya yang dibutuhkan untuk 1 Ha sawah adalah Rp. 4.000.000,-, jadi ketika hasil padi 3,6 ton dikalikan dengan asumsi harga Gabah Rp. 3.000,-/Kg maka pendapatan bruto dari sawah/Ha/MT adalah 3.000 X 3.600 = Rp.10.800.000,-, setelah dikurang biaya produksi maka angka Rp 6.800.000,-/Ha/MT akan dikantongi oleh Bapak Abu.
Terakhir, Seandainya ada pihak baik dari Pemerintah maupun Lembaga donor yang mau serius mengelola permasalahan pertanian sawah di Rangkiang Luluih bukan tak mungkin 3 tahun kedepan angka-angka diatas bisa dilewati. Karena hasil pengamatan penulis dilapangan, permasalahan urgent yg terjadio di sana adalah masyarakat belum memakai Mesin untuk mengolah Sawah, mereka masih memanfaatkan Kerbau untuk membajak sawah mereka, dari segi pembiayaan memang sangat irit namun tentu akan Signifikan terhadap produksi padi mereka. Karena di kawasan P3A Malereang Tabiang yang diketuai oleh Pak Rizaldi produksi sawah berkisar antara 3,5 s/d 4,5 Ton/Ha/MT, padahal untuk pengairan petani disana masih kewalahan karena harga BBM yang naik dan biaya perawatan mesin yg juga ikut meningkat.
SEMOGA ANAK2MU BISA MENGECAP PENDIDIKAN DI PERGURUAN TINGGI, WAHAI SAUDARAKU DI RANGKIANG LULUIH


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.